Sabtu, 02 Januari 2016

Makalah Kritik Seni



MAKALAH
KRITIK SENI RUPA



DISUSUN OLEH:
NAMA ANGGOTA KELOMPOK  4/3F:
1.      ARYA PANDU
2.      INDAH SRI PURWATI
3.      INTAN NURLITA
4.      DEWI RAHMAWATI
5.      IBNU ATO’ILAH

STKIP PGRI TULUNGAGUNG
Jalan Mayor Sujadi No.7 Tulungagung Telp./ Fax 0355-321426 Email:stkippgritulungagung@gmail.com/website: stkippgritulungagung.ac.id/Kode Pos 66221
KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr. Wb

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan inayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi tugas mata kuliah pendidikan Seni Rupa SD ini dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya hambatan selalu mengiringi namun atas bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua, dosen pembimbing dan teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu akhirnya semua hambatan dalam penyusunan makalah ini dapat teratasi.
Makalah ini kami susun dengan tujuan sebagai informasi serta untuk menambah wawasan khususnya mengenai “KRITIK SENI RUPA”. Adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan makalah ini adalah berdasarkan pengumpulan sumber informasi dari berbagai karya tulis dan kajian serta web-blog.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan motivasi sekaligus menambah wawasan untuk saya pribadi khususnya dan untuk para pembaca. Tidak lupa juga kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan dalam hal penyusunan dan isi makalah maupun kosa kata yang mungkin tidak memenuhi standar bahasa indonesia yang baik dan benar. Kami sebagai penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kebaikan makalah kami.


Tulungagung,   Desember 2015


Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Kritik Seni dalam dunia Seni Rupa sangat penting. Malalui Kritik Seni, kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang tampak dalam sebuah karya seni. Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu pandangan masing-masing pelaku kritik didasari dari latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh.
Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif. namun nilai kritik akan sangat bisa diterima, tentunya, jika sudah melalui seleksi mayoritas atas pandangan yang obyektif.
Situasi kondisi dalam hal ini sangat mudah kita saksikan, baik itu di wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas tertentu. Prilaku kritik mengkritik sangat mudah dijumpai di mana saja dalam konteks sesuai dengan wilayah masing-masing.
Mengkritik sebaiknya dibarengi dengan semangat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya bukan sebaliknya. Jadi jikapun terjadi sebaliknya, berarti ada yang konslet dari proses kritik mengkritik itu. Dan disitulah yang musti dibenahi.
Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik mengkritik kerap terjadi. saya yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling menghormati, realistis dan menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka kritik akan menjadi perbuatan yang menyenangkan.






B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian kritik seni?
2.      Bagaimana ruang lingkup kritik seni?
3.      Apa saja jenis-jenis kritik seni?


C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian kritik seni.
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup kritik seni.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis kritik seni.





















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Kritik Seni

Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya.
Para ahli seni umumnya beranggapan bahwa kegiatan kritik dimulai dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan memperbincangkan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut.
Sejalan dengan perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat terhadap dunia seni, kegiatan kritik kemudian berkembang memenuhi berbagai fungsi sosial lainnya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap sebuah karya seni, tetapi dipergunakan juga sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni.
Tanggapan dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian ekonomis (price) dari karya seni tersebut.
Dalam pembelajaran seni di sekolah, kegiatan apresiasi kita gunakan sebagai salah satu metode pembelajaran seni. Melalui kegiatan apresiasi, kita belajar tidak saja untuk memahami dan atau menghargai karya seni, tetapi dapat juga diimplementasikan untuk menghargai berbagai perbedaan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian kita terhadap karya seni dan warisan budaya bangsa lainnya dapat ditumbuhkan dengan pembelajaran apresiasi ini.
Dalam dunia pendidikan, kegiatan kritik dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam proses pembelajaran seni. Kekurangan pada sebuah karya dapat dijadikan bahan analisis untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran maupun hasil belajar kegiatan apresiasi yang tentang seni.

B.     Ruang Lingkup
            Kritik seni kecuali berobjek pada karya seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang karya seni dan seninya sendiri, kritikus dapat membuat penilaian, mempertimbangkan atau penghakiman harus didasari pada kriteria atau tolak ukur tertentu. Dalam kriteria yang intrinsik, yaitu kriteria yang berhubungan dengan nilai estetik karya seni rupa yang inheren pada sasaran (objek) kritik, kriterianya telah melekat  pada intraestetik yang terkandung di dalam karya seni. Akan tetapi tidak semua karya seni bersifat otonomi kedudukannya dalam kehidupan manusia, karena tidak semata-mata “seni untuk seni” maka disamping kriteria intrinsik ada pula kriteria ekstrinsik atau ekstraintrinsik yang mengacu pada bidang kehidupan di luar seni, antara lain bidang agama, politik, bisnis, etika, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.
            Semula kritik seni dibangun dari konsep filsafat metafisis, dari sisni timbul bermacam-macam kritik yang bersifat dogmatis. Akan tetapi belakangan ini tampaknya pendekatan secara empiris lebih diterima dan dipraktikkan secara luas. Pendekatan yang terakhir memandang karya seni sebagai basis pengajuan hipotesis dalam menafsirkan nilai seni. Konsep yang menempatkan pentingnya unsur pembuktian dalam proses penelitian nilai seni sangat diutamakan oleh kritikus. Namun demikian keberadaan seni masih diperdebatkan. Ada yang berpendirian bahwa kritik seharusnya merupakan aktivitas evaluasi, karya seni adalah objek atau sasaran pengalaman estetik, kritik tidak perlu sampai pada kesimpulan nilai penghakiman karena dengan deskripsi atau pembahasan yang lengkap sudah mencukupi untuk menangkap makna estetis (Dewey, 1971).
            Pendirian lain menganggap kritik sebagai usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Kritik sebagai kajian atau penelitian secara rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni sebagai aktivitas evaluasi kritik harus sampai pada pernyataan nilai baik, ahkan samapai pada penentuan kedudukan karya seni dalam konteks karya yang sejenis (Feldman, 1981).
            Sementara dikatakan pula bahwa aktivitas kritik sebagai seni tersendiri artinya seorang kritikus juga seorang seniman, kritikus adalah seorang individu kreatif yang mengungkapkan makna seni. Maka dari itu dalam kritik seni ada tiga ansumsi penting, bahwa dalam kritik sebagai apresiasi seni, kritik sebagai aktivitas penghakiman, kritik sebgai seni tersendiri. Meskipun prinsip kritik seni biasanya kurang terpuji akan tetapi menurut kenyataannya orang membutuhkan prinsip dasar untuk memperkuat dan memperkokoh penilaian seni sampai pada kesimpulan penilaian yang baik, lebih baik, dan yang terbaik.
            kiranya telah disadari sejak awal bahwa kritik seni adalah memahami dan menikmati karya seni, maka kritikus akan mendasarkan kritiknya terpusat pada objek atau sasaran kritik yakni karya seni itu sendiri. Sementara faktor lain yaitu faktor eksternal seperti bakat seni, reputasi biografis, kontekssosial budaya, dan faktor-faktor lain di luar karya seni itu dipakai sebagai material yang harus dikonfirmasikan atau disesuaikan dengan hasil pengamatan terhadap karya seni.

C.    Jenis Kritik Seni
Kritik karya seni memiliki perbedaan tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka dijumpai beberapa jenis karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967) yaitu kritik populer (popular criticism), kritik jurnalis (journalistic criticism), kritik keilmuan (scholarly criticism). dan kritik pendidikan (pedagogical criticism).
Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat : bahasa), cara (metode), sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama. Keempat kritik tersebut memiliki fungsi yang menekankan pada masing-masing keperluannya.
1.      Kritik Populer
Kritik populer adalah jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi massa/umum. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik populer, umumnya dipergunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam.
2.      Kritik Jurnalis
Kritik jurnalis adalah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritk ini hampir sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, tertama karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya
3.      Kritik Keilmuan
Kritik keilmuan merupakan jenis kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menilai /menanggapi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya dalam bidang seni, atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang.
4.      Kritik Kependidikan
Kritik kependidikan merupakan kegiatan kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis ini termasuk yang digunakan oleh guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni

Selain jenis kritik yang disampaikan oleh Feldman, berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula beberapa bentuk kritik yaitu: kritik formalistik, kritik ekspresivistik dan instrumentalistik :
A.    Kritik Formalistik
Melalui pendekatan formalistik, kajian kritik terutama ditujukan terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.
B.     Kritik Ekspresivistik
Melalui pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah karya.
C.    Kritik Instrumentalistik
Melalui pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Lukisan berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan.














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk mempertumbuhkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Kegiatan kritik berawal dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan berbincang-bincang tentang karya seni.
Kritik seni kecuali berobjek pada karya seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang karya seni dan seninya sendiri, kritikus dapat membuat penilaian, mempertimbangkan atau penghakiman harus didasari pada kriteria atau tolak ukur tertentu. Dalam kriteria yang intrinsik, yaitu kriteria yang berhubungan dengan nilai estetik karya seni rupa yang inheren pada sasaran (objek) kritik, kriterianya telah melekat  pada intraestetik yang terkandung di dalam karya seni. Akan tetapi tidak semua karya seni bersifat otonomi kedudukannya dalam kehidupan manusia, karena tidak semata-mata “seni untuk seni” maka disamping kriteria intrinsik ada pula kriteria ekstrinsik atau ekstraintrinsik yang mengacu pada bidang kehidupan di luar seni, antara lain bidang agama, politik, bisnis, etika, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Menurut Feldman (1967) terdapat 4 (empat) jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik (journalistic criticism), kritik populer (popular criticism), kritik pedagogik (pedagogical criticism), dan kritik akademik (scholarly criticism). Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat : bahasa), cara (metode), pola berpikir, sasaran, dan materi yang tidak sama. Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk kritik sebagai berikut : (1). Kritik Formalistik, kajian kritik terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. (2). Kritik Espresivistik, menilai dan menanggapi gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman dalam sebuah karya seni. (3). Kritik Instrumentalistik, sebuah karya seni dilihat kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi .

B.     KRITIK DAN SARAN
            1.      Sebaiknya para pembaca memahami benar tentang kritik seni karena sebagai calon guru SD, harus dapat memberika kritik seni yang bersifat membangun dan memperbaiki karya sebelumnya.
            2.      Kami menyadari bahwa makalah ini kurang sempurna untuk itu kami sangat menerima kritik dan saran dari pembaca.























DAFTAR PUSTAKA