MAKALAH
KRITIK
SENI RUPA
DISUSUN
OLEH:
NAMA
ANGGOTA KELOMPOK 4/3F:
1. ARYA
PANDU
2. INDAH
SRI PURWATI
3. INTAN
NURLITA
4. DEWI
RAHMAWATI
5. IBNU
ATO’ILAH
STKIP PGRI TULUNGAGUNG
Jalan Mayor Sujadi No.7
Tulungagung Telp./ Fax 0355-321426 Email:stkippgritulungagung@gmail.com/website:
stkippgritulungagung.ac.id/Kode Pos 66221
KATA
PENGANTAR
Assalamualikum Wr. Wb
Puji syukur kita
panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan inayah-Nya serta
nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi tugas mata kuliah
pendidikan Seni Rupa SD ini dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya
hambatan selalu mengiringi namun atas bantuan, dorongan dan bimbingan dari
orang tua, dosen pembimbing dan teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu
persatu akhirnya semua hambatan dalam penyusunan makalah ini dapat teratasi.
Makalah ini kami susun
dengan tujuan sebagai informasi serta untuk menambah wawasan khususnya mengenai
“KRITIK SENI RUPA”. Adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan makalah ini
adalah berdasarkan pengumpulan sumber informasi dari berbagai karya tulis dan
kajian serta web-blog.
Semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat dan motivasi sekaligus menambah wawasan
untuk saya pribadi khususnya dan untuk para pembaca. Tidak lupa juga kami mohon
maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan dalam hal
penyusunan dan isi makalah maupun kosa kata yang mungkin tidak memenuhi standar
bahasa indonesia yang baik dan benar. Kami sebagai penulis sadar bahwa makalah
ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itu kritik dan saran sangat kami
harapkan demi kebaikan makalah kami.
Tulungagung, Desember 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kritik Seni dalam dunia Seni Rupa sangat
penting. Malalui Kritik Seni, kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang
tampak dalam sebuah karya seni. Terjadinya kritik disebabkan adanya
ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun lepasnya batas-batas normatif dalam
pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu pandangan masing-masing pelaku kritik
didasari dari latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalamannya secara
menyeluruh.
Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif
bisa pula bermakna obyektif. namun nilai kritik akan sangat bisa diterima,
tentunya, jika sudah melalui seleksi mayoritas atas pandangan yang obyektif.
Situasi kondisi dalam hal ini sangat mudah
kita saksikan, baik itu di wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah yang
lebih kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas
tertentu. Prilaku kritik mengkritik sangat mudah dijumpai di mana saja dalam
konteks sesuai dengan wilayah masing-masing.
Mengkritik sebaiknya dibarengi dengan
semangat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya bukan
sebaliknya. Jadi jikapun terjadi sebaliknya, berarti ada yang konslet dari
proses kritik mengkritik itu. Dan disitulah yang musti dibenahi.
Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik
mengkritik kerap terjadi. saya yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling
menghormati, realistis dan menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka
kritik akan menjadi perbuatan yang menyenangkan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
kritik seni?
2.
Bagaimana ruang
lingkup kritik seni?
3.
Apa saja
jenis-jenis kritik seni?
C.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui
pengertian kritik seni.
2.
Untuk mengetahui
ruang lingkup kritik seni.
3.
Untuk mengetahui
jenis-jenis kritik seni.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kritik Seni
Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi
karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni.
Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam berbagai
aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya.
Para ahli seni umumnya beranggapan bahwa kegiatan
kritik dimulai dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan
memperoleh kesenangan dari kegiatan memperbincangkan berbagai hal yang
berkaitan dengan karya seni tersebut.
Sejalan dengan perkembangan pemikiran dan
kebutuhan masyarakat terhadap dunia seni, kegiatan kritik kemudian berkembang
memenuhi berbagai fungsi sosial lainnya. Kritik karya seni tidak hanya
meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap sebuah karya seni,
tetapi dipergunakan juga sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan
hasil berkarya seni.
Tanggapan dan penilaian yang disampaikan
oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap
kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi penilaian ekonomis (price)
dari karya seni tersebut.
Dalam
pembelajaran seni di sekolah, kegiatan apresiasi kita gunakan sebagai salah
satu metode pembelajaran seni. Melalui kegiatan apresiasi, kita belajar tidak
saja untuk memahami dan atau menghargai karya seni, tetapi dapat juga diimplementasikan
untuk menghargai berbagai perbedaan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Kepedulian kita terhadap karya seni dan warisan budaya bangsa lainnya dapat
ditumbuhkan dengan pembelajaran apresiasi ini.
Dalam
dunia pendidikan, kegiatan kritik dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam
proses pembelajaran seni. Kekurangan pada sebuah karya dapat dijadikan bahan
analisis untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran maupun hasil belajar
kegiatan apresiasi yang tentang seni.
B.
Ruang Lingkup
Kritik
seni kecuali berobjek pada karya seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang
karya seni dan seninya sendiri, kritikus dapat membuat penilaian,
mempertimbangkan atau penghakiman harus didasari pada kriteria atau tolak ukur
tertentu. Dalam kriteria yang intrinsik, yaitu kriteria yang berhubungan dengan
nilai estetik karya seni rupa yang inheren pada sasaran (objek) kritik,
kriterianya telah melekat pada intraestetik yang terkandung di dalam
karya seni. Akan tetapi tidak semua karya seni bersifat otonomi kedudukannya
dalam kehidupan manusia, karena tidak semata-mata “seni untuk seni” maka
disamping kriteria intrinsik ada pula kriteria ekstrinsik atau ekstraintrinsik
yang mengacu pada bidang kehidupan di luar seni, antara lain bidang agama, politik,
bisnis, etika, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Semula
kritik seni dibangun dari konsep filsafat metafisis, dari sisni timbul
bermacam-macam kritik yang bersifat dogmatis. Akan tetapi belakangan ini
tampaknya pendekatan secara empiris lebih diterima dan dipraktikkan secara
luas. Pendekatan yang terakhir memandang karya seni sebagai basis pengajuan
hipotesis dalam menafsirkan nilai seni. Konsep yang menempatkan pentingnya
unsur pembuktian dalam proses penelitian nilai seni sangat diutamakan oleh
kritikus. Namun demikian keberadaan seni masih diperdebatkan. Ada yang
berpendirian bahwa kritik seharusnya merupakan aktivitas evaluasi, karya seni
adalah objek atau sasaran pengalaman estetik, kritik tidak perlu sampai pada
kesimpulan nilai penghakiman karena dengan deskripsi atau pembahasan yang
lengkap sudah mencukupi untuk menangkap makna estetis (Dewey, 1971).
Pendirian
lain menganggap kritik sebagai usaha pemahaman dan penikmatan karya seni.
Kritik sebagai kajian atau penelitian secara rinci dan apresiatif dengan
analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni sebagai
aktivitas evaluasi kritik harus sampai pada pernyataan nilai baik, ahkan
samapai pada penentuan kedudukan karya seni dalam konteks karya yang sejenis
(Feldman, 1981).
Sementara
dikatakan pula bahwa aktivitas kritik sebagai seni tersendiri artinya seorang
kritikus juga seorang seniman, kritikus adalah seorang individu kreatif yang
mengungkapkan makna seni. Maka dari itu dalam kritik seni ada tiga ansumsi
penting, bahwa dalam kritik sebagai apresiasi seni, kritik sebagai aktivitas
penghakiman, kritik sebgai seni tersendiri. Meskipun prinsip kritik seni
biasanya kurang terpuji akan tetapi menurut kenyataannya orang membutuhkan
prinsip dasar untuk memperkuat dan memperkokoh penilaian seni sampai pada
kesimpulan penilaian yang baik, lebih baik, dan yang terbaik.
kiranya
telah disadari sejak awal bahwa kritik seni adalah memahami dan menikmati karya
seni, maka kritikus akan mendasarkan kritiknya terpusat pada objek atau sasaran
kritik yakni karya seni itu sendiri. Sementara faktor lain yaitu faktor
eksternal seperti bakat seni, reputasi biografis, kontekssosial budaya, dan
faktor-faktor lain di luar karya seni itu dipakai sebagai material yang harus
dikonfirmasikan atau disesuaikan dengan hasil pengamatan terhadap karya seni.
C.
Jenis Kritik Seni
Kritik karya seni memiliki perbedaan
tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka dijumpai beberapa jenis
karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967) yaitu kritik populer (popular
criticism), kritik jurnalis (journalistic criticism), kritik
keilmuan (scholarly criticism). dan kritik pendidikan (pedagogical
criticism).
Pemahaman terhadap keempat tipe kritik
seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan
kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat : bahasa), cara
(metode), sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama. Keempat kritik
tersebut memiliki fungsi yang menekankan pada masing-masing keperluannya.
1. Kritik Populer
Kritik populer adalah jenis kritik seni
yang ditujukan untuk konsumsi massa/umum. Tanggapan yang disampaikan melalui
kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja lebih kepada pengenalan atau
publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik populer, umumnya dipergunakan gaya
bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam.
2. Kritik Jurnalis
Kritik jurnalis adalah jenis kritik seni
yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik
melaui media massa khususnya surat kabar. Kritk ini hampir sama dengan kritik
populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat
cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni,
tertama karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil
tanggapannya
3. Kritik Keilmuan
Kritik keilmuan merupakan jenis kritik
yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang
tinggi untuk menilai /menanggapi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya
disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya dalam bidang
seni, atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti kaidah-kaidah atau
metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan
seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator institusi seni
seperti museum, galeri dan balai lelang.
4. Kritik Kependidikan
Kritik kependidikan merupakan kegiatan
kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta
estetika subjek belajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di
lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni
yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis ini termasuk yang digunakan oleh
guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni
Selain jenis kritik yang disampaikan oleh
Feldman, berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula
beberapa bentuk kritik yaitu: kritik formalistik, kritik ekspresivistik dan
instrumentalistik :
A. Kritik Formalistik
Melalui pendekatan formalistik, kajian
kritik terutama ditujukan terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek
formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. Pada sebuah karya
lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan
(komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan sebagainya
yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan
kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.
B. Kritik Ekspresivistik
Melalui pendekatan ekspresivistik dalam
kritik seni, kritikus cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan
perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni.
Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara
judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah
karya.
C. Kritik Instrumentalistik
Melalui pendekatan instrumentalistik
sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan kemampuananya dalam upaya
mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini
tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni tetapi lebih
melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Lukisan berjudul
”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak
saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya saja tetapi keterkaitan antara
objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya
atau interpretasi pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi
karya seni untuk mempertumbuhkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni.
Kegiatan kritik berawal dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada
kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan berbincang-bincang tentang karya
seni.
Kritik seni kecuali berobjek pada karya
seni bisa juga berobjek pada tulisan tentang karya seni dan seninya sendiri,
kritikus dapat membuat penilaian, mempertimbangkan atau penghakiman harus
didasari pada kriteria atau tolak ukur tertentu. Dalam kriteria yang intrinsik,
yaitu kriteria yang berhubungan dengan nilai estetik karya seni rupa yang
inheren pada sasaran (objek) kritik, kriterianya telah melekat pada
intraestetik yang terkandung di dalam karya seni. Akan tetapi tidak semua karya
seni bersifat otonomi kedudukannya dalam kehidupan manusia, karena tidak
semata-mata “seni untuk seni” maka disamping kriteria intrinsik ada pula
kriteria ekstrinsik atau ekstraintrinsik yang mengacu pada bidang kehidupan di
luar seni, antara lain bidang agama, politik, bisnis, etika, kesehatan,
pendidikan, dan lain sebagainya.
Menurut Feldman (1967) terdapat 4 (empat)
jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik (journalistic criticism), kritik
populer (popular criticism), kritik pedagogik (pedagogical criticism), dan
kritik akademik (scholarly criticism). Pemahaman terhadap keempat tipe kritik
seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan
kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria), media (alat : bahasa), cara
(metode), pola berpikir, sasaran, dan materi yang tidak sama. Berdasarkan titik
tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk kritik sebagai
berikut : (1). Kritik Formalistik, kajian kritik terhadap karya seni sebagai
konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur
pembentukannya. (2). Kritik Espresivistik, menilai dan menanggapi gagasan dan
perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman dalam sebuah karya seni. (3). Kritik
Instrumentalistik, sebuah karya seni dilihat kemampuananya dalam upaya mencapai
tujuan, moral, religius, politik atau psikologi .
B.
KRITIK DAN SARAN
1.
Sebaiknya
para
pembaca memahami benar tentang kritik seni karena sebagai calon guru SD, harus
dapat memberika kritik seni yang bersifat membangun dan memperbaiki karya
sebelumnya.
2.
Kami
menyadari bahwa makalah ini kurang sempurna untuk itu kami sangat menerima
kritik dan saran dari
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Ø http://adewinataa.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-ruang-lingkup-dan-jenis.html
(Diunduh tanggal 3 Desember 2015)
Ø http://sma-senibudaya.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-kritik-karya-seni-rupa.html (Diunduh tanggal 3 Desember 2015)